MAUMERE, SIKKA, NTT, Satumerahputih.com – Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, menegaskan bahwa orang muda di daerah memegang kunci penguatan Empat Pilar Kebangsaan. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Indonesia di Desa Wolonwalu dan Desa Ipir, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa, 14 Juli 2026. Sosialisasi kali ini menyasar komunitas pemuda dan pelajar di kedua desa tersebut.

Dengan tajuk “Peran Orang Muda di Daerah dalam Menjaga Empat Pilar Kebangsaan”, Mekeng mengingatkan kaum muda yang hadir bahwa tantangan kebangsaan saat ini tidak lagi hanya soal ancaman fisik, tetapi juga serangan ideologi, hoaks, dan budaya asing yang masuk lewat media sosial.

“Yang paling cepat mengakses HP dan internet itu anak muda. Karena itu, anak mudalah yang paling strategis untuk jadi benteng pertama,” tegasnya.

Untuk itu, Mekeng mengingatkan kaum muda bahwa Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata anak muda lewat organisasi kepemudaan, Karang Taruna, OSIS, dan komunitas kreatif.

“Jangan hanya ikut upacara 17-an. Tapi tunjukkan nilai gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air di keseharian,” ujarnya.

Tokoh muda berdialog dengan Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng dalam kesempatan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan Indonesia di Aula Kantor Desa Wolonwalu, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa, 14 Juli 2026/Foto: Herman Hayong

Mekeng mendorong agar orang muda di daerah tidak minder dengan identitasnya. Ia mencontohkan bahwa budaya Sikka seperti tenun ikat, tarian, dan bahasa daerah bisa menjadi konten untuk memperkuat narasi kebangsaan.

“Kalau anak muda Sikka bangga dengan tenunnya, lalu dipromosikan di TikTok dan IG, itu juga bentuk membela NKRI,” katanya, disambut tepuk tangan peserta.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahaya apatisme politik di kalangan pemuda. Menurutnya, pemuda harus paham UUD 1945 agar tahu hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

“Kalau tidak paham konstitusi, kita mudah ditipu. Kita harus jadi pemuda yang kritis, tapi tetap santun dan beretika,” pesannya.

Dalam sesi dialog, perwakilan pemuda menyampaikan tantangan seperti minimnya ruang berekspresi, kurangnya pelatihan kepemimpinan, dan pengaruh budaya asing. Mekeng merespons dengan mendorong pemerintah desa dan kelurahan mengalokasikan anggaran untuk kegiatan kepemudaan berbasis kebangsaan dan kewirausahaan.

Tokoh pemuda yang hadir pun menyatakan siap membentuk “Duta Empat Pilar” di kedua desa tersebut. Mereka berkomitmen untuk menyebarkan materi kebangsaan melalui sekolah, gereja, dan media sosial.

“Kami mau jadi jembatan antara pemerintah dan anak muda agar nilai kebangsaan tidak berhenti di atas kertas,” ujar salah satu peserta.

Mekeng mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia menekankan bahwa penguatan kebangsaan tidak bisa hanya dari atas.

“Negara kuat kalau desanya kuat. Desa kuat kalau pemudanya kuat. Jadi, masa depan Indonesia ada di tangan kalian,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan, Mekeng menyerahkan buku saku Empat Pilar dan UUD 1945 kepada perwakilan organisasi pemuda. Ia juga mengajak semua peserta menandatangani Komitmen Pemuda Sikka Menjaga Empat Pilar.

Menutup kegiatan, Mekeng berpesan agar orang muda tidak menunggu menjadi pejabat untuk mengabdi. “Mulai dari hal kecil seperti menghormati guru, menjaga toleransi, menolak hoaks, dan mencintai produk lokal. Dari situlah Indonesia akan kuat. Anak muda daerah, kalian luar biasa,” pungkasnya. (JLW)