MAUMERE, SIKKA, NTT, Satumerahputih.com – Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Indonesia di tiga wilayah di Kabupaten Sikka pada Senin, 13 Juli 2026. Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Hewuli, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, dan Desa Hokor, Kecamatan Bola dengan fokus memperkuat pemahaman Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika di tengah masyarakat.

Sosialisasi kali ini menyasar masyarakat perkotaan hingga pedesaan dengan tujuan yang sama yaitu memperkuat pemahaman dan pengamalan Empat Pilar Kebangsaan di tengah keberagaman. Ratusan peserta dari unsur pemerintah kelurahan dan desa, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, serta tokoh agama hadir dan berdiskusi langsung dengan Mekeng.

Dalam pemaparannya di Kelurahan Hewuli, Mekeng menegaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah fondasi yang tidak boleh goyah.

“Pancasila itu kompas, UUD 1945 itu aturan main, NKRI itu rumah kita, dan Bhinneka Tunggal Ika itu lem kita. Kalau satu lepas, rumah bisa roboh,” tegasnya di hadapan warga Hewuli.

Warga Kelurahan Hewuli mengikuti kegiatan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan Indonesia di halaman Kantor Kelurahan Hewuli, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Senin, 13 Juli 2026/Foto:Herman Hayong

Dalam kesempatan tersebut, Mekeng juga menyoroti tantangan zaman digital yang membawa hoaks, ujaran kebencian, dan intoleransi. Menurutnya, penguatan nilai kebangsaan harus dimulai dari lingkungan terkecil yaitu RT, RW, kelurahan dan desa.

“Jangan sampai kita kalah cepat dengan informasi yang memecah belah. Kita harus lebih cepat menyebarkan nilai persatuan,” ujarnya.

Di Kelurahan Wuring, fokus diskusi diarahkan pada peran pemuda dan perempuan sebagai agen penguatan kebangsaan. Mekeng mendorong karang taruna dan PKK untuk aktif membuat kegiatan untuk membumikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila melalui budaya lokal.

“Pemuda Sikka kreatif. Jadikan tenun, musik, dan tarian sebagai media pewartaan kebangsaan,” ajaknya.

Sementara itu di Desa Hokor, Kecamatan Bola, pembahasan lebih menekankan pada kearifan lokal masyarakat adat yang sejalan dengan Empat Pilar. Mekeng mencontohkan semangat gotong royong, musyawarah desa, dan penghormatan kepada leluhur sebagai praktik nyata dari Pancasila sila ke-2, ke-3, dan ke-5.

“Adat kita itu Pancasila yang hidup. Jangan ditinggalkan, tapi terus dirawat,” pesannya.

Warga Desa Hokor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mengikuti kegiatan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan Indonesia dengan narasumber Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Bapak Melchias Markus Mekeng, Senin, 13 Juli 2026/Foto: Herman Hayong

Kegiatan sosialisasi tersebut disambut baik oleh para tokoh dari ketiga wilayah itu. Lurah Hewuli Gelfridus Gonde, S.Fil., menyatakan siap menjadikan kelurahan sebagai pilot project kelurahan sadar konstitusi. Sementara Tokoh adat Wuring mengapresiasi kegiatan tersebut karena materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami warga. Sedangkan Kepala Desa Hokor meminta agar sosialisasi seperti ini diagendakan rutin setiap tahun.

Dalam sesi tanya jawab, warga menyampaikan berbagai persoalan mulai dari pendidikan kebangsaan di sekolah, sanitasi lingkungan hingga persoalan krisis air bersih sebagaimana dialami warga Desa Hokor. Desa Hokor ini di Kecamatan Bola ini memiliki tiga dusun dengan jumlah penduduk sekitar 1.000 jiwa lebih. Setiap tahun warga di sana selalu mengalami kekurangan air minum bersih, yaitu di Dusun Bora dan Dusun Hokor. Kemarin kami mendapatkan proyek air dari Wukur ke Hokor, menggunakan Dana Pinjaman Daerah, namun proyek itu mandek,

“Hampir setiap tahun kami mengalami, terutama warga dusun Boran dan dusun Hokor”, ujar salah seorang warga ketika ditemui usai gelaran sosialisasi empat pilar.

Mekeng menjawab bahwa kunci ada pada pendidikan keluarga dan kolaborasi antara pemerintah, gereja, sekolah, dan adat. Sementara untuk masalah air, hal ini akan ia sampaikan ke Pemerintah Kabupaten Sikka untuk diperhatikan.

“Kalau pemerintah, gereja, sekolah dan adat bisa berjalan bareng, maka anak-anak kita akan tumbuh dengan karakter kebangsaan yang kuat, krisis air pun bisa diatasi” jelasnya.

Sebagai bentuk tindak lanjut, Mekeng menyerahkan buku saku Empat Pilar dan UUD 1945 kepada masing-masing pemerintah wilayah. Ia juga mengajak seluruh peserta menandatangani Komitmen Bersama Menjaga Empat Pilar sebagai simbol kesungguhan menjaga persatuan.

Menutup rangkaian kegiatan, Mekeng berharap dari Hewuli, Wuring, hingga Hokor, semangat kebangsaan bisa terus menyala.

“Kalau kelurahan dan desa kuat dalam Empat Pilar, maka Kabupaten Sikka akan menjadi contoh bagi Indonesia. Mari kita jaga bersama rumah besar kita, NKRI,” pungkasnya. (JLW)