MAUMERA,SIKKA, NTT, Satumerahputih.com – Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, menegaskan masyarakat adat sebagai benteng utama dalam menjaga persatuan Indonesia. Hal itu disampaikannya saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Desa Magepanda dan Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Senin, 27 Juni 2026.

Dalam pemaparannya, Mekeng menegaskan bahwa masyarakat adat adalah garda terdepan penjaga nilai kebangsaan. Menurutnya, struktur adat di Sikka yang menjunjung musyawarah, gotong royong, dan penghormatan terhadap leluhur sangat sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.

“Jangan sampai kita kaya budaya tapi miskin wawasan kebangsaan. Masyarakat adat harus jadi benteng pertama dalam menjaga NKRI,” tegas Mekeng di Balai Desa Magepanda.

Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng dan tokoh masyarakat dari Desa Magepanda dalam kesempatan foto bersama setelah kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan, Senin, 27 Juli 2026/Foto: Herman Hayong

Mekeng menekankan pentingnya penguatan wawasan kebangsaan di tingkat akar rumput, khususnya bagi masyarakat adat. Menurutnya, masyarakat adat memiliki peran strategis sebagai penjaga nilai-nilai luhur bangsa yang sejalan dengan Pancasila.

“Kearifan lokal, gotong royong, dan musyawarah yang hidup di masyarakat adat adalah cerminan nyata dari Empat Pilar Kebangsaan,” ujarnya di hadapan ratusan warga Desa Magepanda.

Mekeng menguraikan empat pilar secara aplikatif. Pancasila sebagai kompas moral, UUD 1945 sebagai payung hukum, NKRI sebagai rumah bersama, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat perbedaan. Ia mencontohkan upacara adat di Sikka yang selalu dimulai dengan doa lintas iman sebagai wujud nyata toleransi.

“Itu Pancasila yang hidup. Itu Bhinneka Tunggal Ika yang nyata,” ujarnya disambut tepuk tangan warga Desa Kolisia.

Di Desa Kolisia juga ia menyoroti bagaimana keberagaman suku dan tradisi di Sikka harus dirawat agar persatuan tetap kokoh di tengah perbedaan. Fokus pada penguatan masyarakat adat menjadi perhatian utama dalam kegiatan ini.

Mekeng menilai, di tengah arus globalisasi dan informasi, identitas budaya lokal rawan tergerus. Oleh karena itu, nilai-nilai adat yang menjunjung tinggi toleransi, musyawarah, dan cinta tanah air perlu terus dihidupkan.

“Jika pilar kebangsaan ini kuat di desa-desa, maka fondasi NKRI juga akan semakin kuat,” tegasnya.

Ketua Fraksi partai Golkar Melchias Markus Mekeng melakukan sosialisasi di desa Kolisia, Senin, 27 Juli 2026/Foto: Herman Hayong

Fokus penguatan masyarakat adat juga menyasar persoalan kekinian. Mekeng mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak hoaks, ujaran kebencian, dan paham radikal yang memecah persatuan. Ia mendorong perangkat adat dan gereja untuk bersama-sama membentengi anak muda dengan pendidikan kebangsaan berbasis budaya lokal.

“Adat dan agama harus jalan bareng untuk jaga moral anak muda kita,” pesannya.

Dalam sesi dialog, warga menyampaikan berbagai aspirasi. Tokoh adat Desa Magepanda, Yohanes Beda, mengapresiasi perhatian MPR terhadap penguatan nilai adat. Ia berharap ada dukungan program pelestarian tenun ikat dan bahasa daerah sebagai bagian dari penguatan identitas bangsa.

Sementara itu pemuda Desa Kolisia meminta materi Empat Pilar dimasukkan dalam kegiatan rutin karang taruna dan sekolah. Kegiatan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama dan penyerahan buku saku Empat Pilar kepada kepala desa. Mekeng berharap, dari Magepanda dan Kolisia, semangat kebangsaan berbasis kearifan lokal bisa menular ke desa-desa lain di Sikka.

“Kalau pilar di desa kuat, maka Indonesia pasti kokoh. Mari kita jaga bersama,” pungkasnya. (JLW)