MAUMERE,Satumerahputih.com – Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng mengajak warga Kelurahan Kota Baru dan Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka untuk terus mempraktikkan keutamaan hidup yang bersumber dari pilar-pilar Kebangsaan Indonesia.

Ajakan itu disampaikan Mekeng saat ia menggelar kegiatan optimalisasi Empat Pilar Kebangsaan Indonesia tahap I dan II yang berpusat di Kantor Kelurahan Kota Baru, Rabu (25/2/2026).

“Di dalam Pancasila, kita belajar keutamaan hidup sebagai masyarakat yang percaya pada Tuhan, kita belajar tentang keadilan, kebijaksanaan dan bagaimana mewujudkan masyarakat yang beradab,” kata Mekeng  di awal paparan mengenai keutamaan di dalam Empat Pilar Kebangsaan Indonesia.

Menurut Mekeng, keutamaan-keutamaan hidup tersebut telah dipraktikkan secara nyata dalam keseharian hidup warga masyarakat di dua kelurahan itu. Ia bahkan mengakui bahwa berbagai keutamaan itu telah menjadi perekat sosial yang telah membentuk identitas dan budaya warga setempat.

“Tanpa keutamaan-keutamaan hidup seperti itu tidak ada kohesi sosial seperti sekarang ini,” tegasnya.

Oleh karena itu, Mekeng mengingatkan berbagai elemen sosial yang hadir saat itu untuk terus menghidupkan keutamaan-keutamaan yang ada, agar pilar-pilar kebangsaan Indonesia tetap berdiri kokoh.

“Kita memahami bahwa Pancasila itu fondasi bagi kehidupan bangsa Indonesia, namun apalah artinya fondasi itu jika keutamaan-keutamaan yang ada di dalam Pancasila itu tidak dihidupi, menjadi rapuh, bukan?, ” kata Mekeng dengan nada tanya.

Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng diterima secara adat oleh masyarakat di Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Rabu (25/2/2026)/Foto: Herman Hayong

Pancasila dan Local Wisdom

Selain mengulas keutamaan hidup yang terkandung di dalam Pancasila, Mekeng juga mengajak masyarakat untuk terus menggali keutamaan hidup yang bersumber dari kebijaksanaan lokal atau local wisdom.

Mekeng mengakui bahwa ada begitu banyak kebijakasanaan lokal yang menjadi pegangan hidup masyarakat setempat seperti tradisi sako seng yaitu prinsip gotong royong dalam mengolah lahan pertanian.

“Selain semangat solidaritas, di dalam tradisi sako seng itu ada landasan etis perihal membangun harmoni antar manusia dengan lingkungan hidup,” ungkap Mekeng.

Menurut Mekeng, prinsip etis di dalam kebijaksanaan lokal seperti itu selaras dengan keutamaan-keutamaan yang ada di dalam Pancasila sebagai salah satu pilar Kebangsaan Indonesia.

“Prinsip etis dalam tradisi sako seng itu diakui atau tidak telah berkontribusi pada cara warga kita memandang sesamanya dan alamnya, cepat tanggap dan peduli terhadap kondisi sekitar”, pungkasnya. (WL)