Oleh. : Agus Widjajanto
Melihat tayangan dari kantor berita Aljazera, dan dari tayangan media sosial yang menayangkan langsung dari kota-kota yang Israel dibombardir rudal jelajah jarak jauh serta drone berpandu yang membawa bom dari Iran. Dan serangan balasan Israel terhadap wilayah Iran dengan menggunakan serangan udara melalui pesawat-pesawat siluman F35. Menghancurkan pusat penelitian Nuklir Iran, menewaskan petinggi militer Iran dan puluhan ahli nuklir, pada tgl 13 Juni pada hari Jumat yang lalu.
Porak poranda-nya kita Tel Aviv, dan Haifa serta kota kota lainya diwilayah Israel, menunjukan Payung Iron Dom yang dibangga-banggakan akan mampu menangkal serangan rudal dari luar, ternyata tidak mampu menangkal serangan rudal jarak jauh dan ratusan pesawat drone bunuh diri dari Iran.
Situasi ini membuat Israel tidak bisa keluar dari situasi perang yang harus dihadapi, mengingat Israel-lah yang telah melakukan serangan terlebih dahulu terhadap wilayah Iran di ibukota Teheran.
Eskalasi perang antara Iran dan Israel diprediksi akan terus meningkat setelah serangan Iran terhadap Israel pada 13 April 2024, yang menargetkan wilayah Israel dengan lebih dari 300 drone dan rudal. Serangan ini merupakan pembalasan atas serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus, Suriah, yang menewaskan beberapa pejabat Iran, termasuk dua jenderal.
Beberapa faktor yang memicu eskalasi perang antara Iran dan Israel adalah :
– Tujuan Revolusi Islam Iran 1979 : Iran ingin menegakkan nilai-nilai Islam Syiah dan menyingkirkan Westernisasi di Timur Tengah.
– Buruknya Hubungan Iran-Israel : Iran mendukung kelompok militan seperti HAMAS dan Hizbullah, sementara Israel melakukan serangan terhadap kepentingan Iran.
– Perang Rahasia : Kedua negara terlibat dalam perang bayangan, saling menyerang kepentingan nasional lawan di darat, udara, laut, dan dunia siber.
Prediksi kedepannya, beberapa kemungkinan yang terjadi adalah :
– Perang Terbuka : Serangan Iran dapat memicu perang terbuka antara kedua negara, dengan kemungkinan keterlibatan negara-negara lain.
– Perebutan Hegemoni : Iran dan Israel bersaing untuk menjadi kekuatan dominan di Timur Tengah, dengan dukungan dari negara-negara besar seperti AS dan Rusia.
– Upaya Perdamaian : Beberapa pihak menyerukan perdamaian dan menahan diri untuk tidak memperburuk situasi.
Namun, mencapai perdamaian di Timur Tengah akan sulit karena :
– Konflik yang Panjang : Konflik antara Iran dan Israel sudah berlangsung lama dan melibatkan berbagai aspek.
– Keterlibatan Negara-Negara Besar : Negara-negara besar memiliki kepentingan yang berbeda-beda di Timur Tengah, sehingga sulit mencapai kesepakatan.
– Dehumanisasi : Konflik yang panjang dapat menyebabkan dehumanisasi dan normalisasi kekerasan.
Dalam beberapa bulan terakhir, situasi semakin memanas dengan serangan-serangan yang dilancarkan kedua belah pihak. Hanya waktu yang dapat menentukan bagaimana eskalasi perang ini akan berlanjut.
Jika situasi ini tetap berlanjut maka diprediksi akan menyeret negara-negara Arab di sekitarnya dan akan menyeret negara-negara Besar, dalam perang di Timur Tengah yang bukan tidak mungkin memicu pecahnya perang Global, Perang Dunia ke tiga.
Skenario paling logis, Iran akan melakukan serangan udara menggunakan pesawat tempur secara terbuka dan meminta bantuan membeli peralatan perang dari China dan Rusia yakni pesawat Shangyang J 35, yang merupakan pesawat siluman buatan China Tiongkok, Iran dalam beberapa pekan sebelumnya telah menerima pesawat SU 35 dari Rusia, juga akan kembali mendatangkan ratusan pesawat SU 35 ditambah pesawat generasi ke lima terbaru sari Rusia yakni SU 57.
Rusia dan China akan membantu Iran dari konsekuensi logis atas kepentingan hegemoni Global baik secara politis, ekonomi maupun militer yang ingin menyaingi hegemoni Amerika Serikat bahkan berkeinginan untuk merobohkan hegemoni tersebut, baik di tingkat Global maupun di kawasan seperti Timur Tengah yang kaya akan Sumber Energi minyak dunia. Demikian juga Pakistan dan Yaman akan mendukung penuh Iran, dan hal ini bukan tidak mungkin akan memicu perang antar golongan dalam negara dan antara negara-negara Islam melawan negara-negara yang non Islam. Yang terseret bukan hanya dalam kepentingan politik akan tetapi sudah mengarah pada kepentingan kesetiakawanan dalam agama. Ini yang sangat berbahaya serangan Houthi Yaman terhadap kapal-kapal di Laut Merah melewati Terusan Suez. Akibatnya adalah penurunan pendapatan karena kapal-kapal lebih memilih menghindari Laut Merah, akibat Rudal dari Houthi Yaman yang didukung Iran .
Iran dengan alutsista terbaru dari China dan Rusia tersebut akan menghantam seluruh pangkalan militer yang di kuasai Amerika Serikat di Timur Tengah, baik di Irak, Suriah, Yordania, dengan tujuan untuk menghambat bantuan paman Sam untuk militer Israel yang merupakan anak emas dan partners kepentingan di Timur Tengah. Belum lagi Iran akan mempersiapkan serangan darat dari wilayah Libanon yang akan dibantu Hamas dan Hizbullah, untuk menyerang Israel dari perbatasan. Apabila hal ini terjadi maka Pemerintahan Donal Trump akan terseret dalam perang besar yang bisa membawa konsekuensi logis dalam kepentingan Global, yang mana Amerika telah memainkan perannya selama ini di Timur Tengah sebagai kekuatan yang mendominasi yang ingin melenyapkan pemerintahan Iran, dan diganti dengan pemerintahan yang bisa dikendalikan dan berkawan dengan Israel melalui anak dari Raja Mohammad Reza Pahlavi dari dinasti Iran yang digulingkan oleh Ayatullah Khomeini pada tahun 1979 yang lalu.
Dengan skenario tersebut harusnya negara negara Arab sadar dan bersatu untuk meninggalkan kepentingan masing-masing, sebab situasi tersebut akan membahayakan eksistensi da keberadaan mereka selaku negara yang bermartabat. Setelah jatuhnya Irak lalu Libya dan dilanjutkan jatuhnya Suriah, harus menjadi pembelajaran dimana setelah itu adalah giliran mereka untuk dikuasai.
Melihat konstelasi kekuatan yang diprediksi akan menumpuk di wilayah timur tengah, dan akan meletus perang terbuka antara Israel dengan Irak, yang secara efek domino sangat mempengaruhi ekonomi dunia, karena pasokan Energi minyak pasti terganggu, dan mungkin akan mengalami kekacauan di seluruh dunia. Krisis energi untuk kendaraan bermotor serta pesawat terbang dengan sibuknya penerbangan antar negara dan antar daerah dalam satu wilayah negara dan industri industri yang masih menggunakan energi minyak. Situasi Ekomoni global akan sangat terpengaruh dan keadaan akan semakin sulit, yang tentu mau tidak mau suka tidak suka berimbas pada Kondisi Ekomoni negara kita, Indonesia tercinta.
Sebagai negara non blok dan negara muslim terbesar di dunia memang tidak akan terpengaruh secara politik, akan tetapi dengan sistem Perdagangan global dan sistem keuangan global yang masih bergantung pada dolar Amerika maka hal ini akan sangat berpengaruh, dimana pemerintah harus bersiap diri untuk melakukan proteksi untuk melindungi rakyat dari tetap tersedianya BBM, dan bahan pokok kebutuhan baik pangan maupun sandang.
Bahan introspeksi dan pembelajaran bagi kita, bahwa untuk bisa menciptakan perdamaian dunia maka harus siap untuk melakukan peperangan, harus mampu untuk membangun kekuatan militer dan ekonomi agar bisa menciptakan perdamaian secara aman, tanpa kondisi siap perang walau kita cinta damai, maka akan jadi makanan empuk bagi negara-negara besar yang yang secara politis hukum perang merupakan bagian dari bisnis dan kekuasaan mereka untuk menguasai negara yang lebih lemah.
Penulis : Pemerhati sosial budaya, politik, dan sejarah bangsanya.
Komentar Terakhir