SATUMERAHPUTIH.Com,LABUAN BAJO – Menyadari peran vital sebagai agen perubahan dalam membangun kebangsaan, Melchias Markus Mekeng mengajak para pelajar dari SMA Sanctissima Trinitas di Kecamatan Kuwus Manggarai Barat untuk berpikir kritis, berjiwa toleran dan cinta tanah air Indonesia.

“Ini merupakan syarat penting kalau adik-adik di sini mau menjadi agen perubahan sosial”, kata Mekeng.

Orang-orang muda yang sanggup berpikir kritis, demikian menurut Mekeng, adalah mereka yang aktif, cermat dan gigih dalam mempertimbangkan soal keyakinan atau satu pengetahuan apapun.

“Berpikir kritis itu bukan tentang menghafal, apalagi menghafal pasal-pasal”,ujar Mekeng.

Lebih lanjut Mekeng mengatakan bahwa sikap kritis seperti itu dibutuhkan juga dalam upaya menanamkan nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu, Mekeng juga mengajak para peserta yang hadir untuk dapat menumbuhkan jiwa yang toleran, sanggup membuka dialog kehidupan tentang manusia Indonesia dan kemanusiaan secara universal.

Mekeng pun meyakini bahwa apabila orang-orang muda sanggup memenuhi syarat seperti sudah pasti mereka dapat menciptakan inovasi, semangat dan visi baru untuk kemajuan bangsa Indonesia.

“Terlebih di era globalisasi ini, kaum muda, adik-adik pelajar perlu memahami tanggung jawab mereka untuk terlibat aktif dalam pembangunan negara.

Menurut Mekeng perkembangan di era globalisasi yang demikian masif ini menghadirkan berbagai tantangan bukan hanya di bidang sosial kemasyarakatan tetapi juga bidang ideologi.

“Erosi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara juga dirasakan sebagai dampak dari era globalisasi tentu perlu diantisipasi oleh setiap lapisan masyarakat. Setiap orang perlu memahami cara menghadapi tantangan Pancasila di era globalisasi”, kata Mekeng.

Mekeng tak menampik jika globalisasi telah menimbulkan berbagai tantangan pada penerapan nilai-nilai Pancasila sepeti menguatnya individualisme atau perseorang yang mengesampingkan hak masyarakat umum.

Sementara itu, lanjut Mekeng, dalam ranah masyarakat perkotaan telah terjadi penguatan kosmopolitan seluruh manusia merupakan anggota dari komunitas global. Paham ini memberi dampak positif untuk menekan diskriminasi dan isu rasial.

“Sayangnya, paham kosmopolitan yang kuat juga bisa melemahkan identitas dan solidaritas kebangsaan. Padahal sikap solidaritas dan rasa kebersamaan sebagai satu bangsa Indonesia adalah salah satu nilai yang dijunjung tinggi dalam Pancasila”,ujarnya.

Oleh karena itu, Mekeng meningatkan bahwa kegiatan sosialisasi 4 Pilar bertujuan untuk membangkitkan sikat kritis para pelajar untuk mencermati dampak negatif dari perkembangan di era globalisasi saat ini.

“Jangan sampai adik-adik terlena hingga harapan menjadi agen-agen perubahan itu tak terwujud”, kata Mekeng. (JLW)