Penulis: Charles Lamaberaf

Saya sangat suka lagu “TABOLA BALE”dari Silet OpenUp. Musik yang sangat kekinian amat menggoda siapapun untuk menghentakkan kaki atau menggerakkan pinggul dan kepala. Lagu ini, menurut hemat saya, layak untuk di ruang pesta, atau pas ketika sedang hura-hura atau tengah dilanda kasmaran.

Lagu dan musik memang selalu punya ruang sendiri, dan bahkan membangun dunianya sendiri. Ya, TABOLA BALE adalah hiburan. Tabola Bale adalah hentakan. Ia membawa makna tertentu dalam ruang yang tertentu pula.

Tapi apakah “Tabola Bale”, dengan alasan hiburan dan hentakan sekalipun, boleh ‘seenaknya’ dimasukkan dalam ruang-ruang formal seperti upacara kenegaraan atau wisuda sarjana? Apakah “mars-mars” dengan ritme stakato sudah kehilangan ‘taring’ di ruang – ruang formal seperti itu? Rasanya, “makin ke sini, kok makin ke sana”.

Poin saya sederhana saja: makna! Ada pergeseran kesadaran budaya – dari makna ke suasana, dari symbol ke sensasi.

Sukacita, iya! Seratus persen setuju. Tetapi sukacita dalam ruang-ruang formal tetap mesti mengandung kebenaran simbolik yang menghormati nilai dan konteks. Dulu, seremoni kenegaraan dan akademik punya ‘aura’ – nilai luhur yang diangkat oleh lagu, doa dan symbol resmi. Sekarang, ketika lagu cinta populer merembes masuk ke sana, ‘aura’ itu hilang, diganti dengan hiburan massal.

“Loss of aura”, kata Walter Benjamin. Ritual kehilangan dasar sakralnya karena diganti logika konsumsi dan tontonan. Ada gejala profanisasi symbol public: yang sakral (upacara) dikaburkan oleh yang profan (lagu hiburan asmara).

Bahkan, yang terjadi adalah ‘mismatch simbolik”, ketidaksinkronan antara isi lagu dan makna acara atau dalam bahasa sosiologi, “dislokasi simbolik”, yaitu ketika symbol di ruang sosial tertentu dipindahkan ke ruang lain tanpa penyesuaian makna. Akibatnya: kebingungan makna! Dan hal ini kian menjadi trend akhir-akhir ini, ketika banyak institusi kerap tergoda untuk terlihat ‘akrab’ atau ‘merakyat’, tapi tanpa disadari sedang kehilangan sensitivitas simbolik terhadap isi kultural yang mereka tampilkan.

Sosiolog Pierre Bourdieu menyebut hal semacam ini sebagai “symbolic misrecognition” – ya saya boleh menerjemahkan ini dengan kekeliruan rasa simbolik, yakni ketika institusi – institusi formal menggunakan symbol-symbol populer (rakyat) tanpa memahami struktur maknanya yang sebenarnya. Apa jadinya? Acara formal berubah menjadi hiburan, dan sangat boleh jadi public jadi terbiasa bahwa apapun bisa dijadikan symbol seremonial, meski itu sangat tidak relevan (banalisasi simbolik).

Saya memang sangat suka lagu “tabola bale”, ya amat menghibur saya ketika lelah dari berpastoral kebun dan kandang. Tapi toh itu selalu ada batas. Ada ruangnya, ada dunianya sendiri. Kalau saya tak cukup ‘awas’ dengan soal batas ini, maka mirip seperti apa kata lagu ini, makna pun “tabola bale”, jungkir balik: bisa ke sana, bisa ke sini.

Sama halnya, misalnya dengan soal ‘tepuk tangan’ di dalam gereja Katolik ketika masih dalam rangkaian perayaan ekaristi. Banyak gereja sudah mulai menyadari ‘batas’ ini untuk mempertegas makna perayaan. Tapi tak disangkal pula masih ada yang tenggelam dalam kekaburan batas. Ya, etika estetika dalam ruang publik, apalagi dalam ruang-ruang formal perlu dijaga: tidak semua yang populer layak masuk dan berkelindan dengan symbol resmi.
Ya, akhirnya, saya boleh katakan bahwa euphoria atau sukacita seheboh apapun, tetap harus diintervensi dengan rasionalitas (bukan rasionalisasi) yang jelas dan tegas.


Apakah upacara – upacara formal seperti apel bendera atau wisuda adalah ruang-ruang untuk unjuk suasana kasmaran? Jawabannya tentu sangat bergantung pada apa yang ada dalam kepala kita masing-masing.

Salam dari kandang dan kebun JAMALEWA – MANGULEWA