MAUMERE, Satumerahputih.com – Ketua Fraksi Partai Golkar Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Melchias Markus Mekeng mengatakan bahwa lemahnya penghayatan nilai-nilai keagamaan serta pemahaman agama yang sempit masih menjadi tantangan serius bagi persatuan bangsa. Oleh karena itu, penguatan Empat Pilar Kebangsaan dinilai menjadi solusi strategis untuk menjaga keutuhan dan harmoni nasional.

Hal itu Ia sampaikan ketika menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Aula SMKS St. Elisabeth Lela, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Selasa 30 Desember 2025.

Saat menyampaikan materi Empat Pilar, Pria yang akrab disapa Mekeng ini menegaskan bahwa apabila masyarakat menghidupi pemahaman agama yang lurus dan moderat, mereka pasti terbuka menghargai keberagaman.

Warga masyarakat Desa Kolidetung dan Desa Hepang, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mengikuti kegiatan sosialisasi empat pilar yang digelar oleh Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng, Selasa, 30 Desember 2025/Foto:Herman Hayong

Namun Mekeng mengingatkan bahwa dalam realitas hidup, masih ada oknum atau kelompok masyarakat yang berpandangan sempit. Baginya, ini menjadi tantangan yang perlu diatasi, salah satunya melalui Sosialisai Empat Pilar MPR RI.

Mekeng pun mengingatkan para peserta agar selalu terbuka menghargai kemajemukan warga dengan mengamalkan nilai-nilai yang bersumber dari Pancasila, UUD NRI 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Saya yakin Bapak Ibu kaum muda di sini memiliki pemahaman agama yang lurus dan moderat. Namun di daerah lain, hal-hal seperti ini masih terjadi dan berpotensi memecah belah bangsa”, kata Mekeng.

Mekeng juga menyebut tantangan internal lainnya seperti fanatisme kedaerahan, kurangnya penghargaan terhadap keberagaman, lemahnya keteladanan sebagian pemimpin, serta penegakan hukum yang belum berjalan optimal.

“Tentu semua itu menjadi keprihatinan kita bersama,” ujarnya. 

Sebagaimana pantuan media ini, sosialisasi itu diikuti oleh pelajar dari SMKS Santa elisabeth Lela, pimpinan serta masyarakat desa Kolidetung dan Desa Hepang, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Hadir juga sejumlah tokoh adat dan tokoh muda dari kedua desa itu. *** (WL)