JAKARTA, SATUMERAHPUTIH.Com – Perjalanan panjang melintas empat puluh tahun tentu bukan sekedar hitungan angka, bukan pula sekedar kisah ziarah biasa. Empat puluh tahun itu menjadi sebuah perjalanan kesaksian melalui iman dan pelayanan kasih. Kesaksian yang terus bertumbuh dan berbuah, tidak hanya secara kuantitas tetapi juga kualitas.
Perayaan Hari Ulang Tahun ke-40 Persekutuan Doa Pembaruan Karismatik Katolik (PDPKK) pada Minggu (16/11/2025) lalu menjadi moment penuh sukacita. Bertempat di Ruang Serba Guna Provinsialat Kongregasi Misionaris Hati Kudus (MSC) di Jalan KH. Hasyim Ashari, Petojo Utara, Jakarta Pusat, para Pendiri, Koordinator serta ratusan anggota PDKK Santo Lukas berkumpul dan berdoa bersama, mensyukuri peristiwa iman yang telah ditabur sejak 40 tahun lalu.
Romo Felix Supranto, SS.CC selaku moderator PDPKK Santo Lukas mengemukakan bahwa pengabdian panjang PDPKK Santo Lukas tidak lepas dari pengalaman suka dan duka. Namun ia sungguh menyakini bahwa Tuhan sungguh menyertai perjalanan PDPKK.
“Kita menyerahkan seluruh kesulitan pada Tuhan karena kita percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah. Dalam kegembiraan, kita bersyukur bahwa peristiwa hari ini tentu merupakan anugerah Tuhan”, ujar Romo Felix.
Dalam pandangan Romo Felix, usia ke-40 merupakan waktu bagi PDPKK untuk kembali merefleksikan seluruh karya perjalanannya apakah seluruh anggotanya sudah sungguh-sungguh menghidupi 7 karunia Roh Kudus.
“Untuk menjadi pencinta Tuhan dan sesama, kita perlu terus menerus melihat diri kita apakah perjalanan kita masih selaras dengan kehendak Tuhan?”, kata Romo.
Sebagai seorang moderator, Romo Felix terus mengikuti dan mendampingi PDPKK sesuai dengan kemampuannya. Ia mengikuti seluruh dinamika PDPKK Santo Lukas. Ia tahu, ada banyak tantangan yang dihadapi tetapi juga ada begitu banyak kesaksian iman dan karya pelayanan hingga banyak orang boleh merasakan kehadiran Tuhan.
Karena itu, mengutip Roma 12:11, Romo Felix pun berpesan agar PDPKK Santo Lukas terus menyalakan semangat dalam karyanya. “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu bernyala-nayala dan layanilah Tuhan”.
Nada syukur itu terungkap tak hanya melalui nyanyian dan pujian para anggota PDDK, tapi juga dari sapaan Ketua Panitia Perayaan HUT Ke-40 PDPKK Santo Lukas, Mariati Djamianto kala memberikan sambutannya.
“Menjadi tujuan hidup kita sebagai anak-anak Allah untuk semakin terus menyerupai Dia lewat setiap kegiatan dan pelayanan kasih yang diberikan dengan sepenuh hati, sejalan dengan tema HUT PDPKK Ke-40: Menjadi Terang dan Garam, Tak Kelihatan Namun Bercahaya Bagi KemuliaanNya (Mat. 5:13-15)”.
Melalui tema itu, demikian menurut Jamianti, PDPKK Santo Lukas (Medis) rindu untuk semakin merangkul lebih banyak tenaga medis dan awam Katolik dalam menghidupi visi menyebarluaskan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit melalui hidup doa pribadi dan komunitas serta pelayanan kasih yang nyata melalui bakti sosial.

“PDPKK Santo Lukas juga memwujudkan pelayanan kasih lewat bakti sosial”,ujar Djamianto.
Sementara itu, drg. Gabriel Teng selaku Koordinator acara dalam sambutannya kembali mengingatkan para peserta akan warisan berharga dari para pendiri PDPKK, spirit dasar PDPKK tetap eksis.
“Sungguh besar kasih dan berkat Tuhan bagi karya pelayanan PDPKK Santo Lukas, lewat semangat dan kerinduan dr. Hendra Hadibrata (alm.) untuk dapat menyatukan para tenaga medis Katolik dalam satu persekutan doa dan pelayanan kasih para dokter”, kata Gabriel.
Ajakan dan harapan pun seketika bergema dari ruang serba guna itu. drg. Gaby berharap warisan spirit dan karya nyata the founding fathers itu tetap hidup dan semakin berkembang dalam diri seluruh anggota PDPKK.
“Semoga semangat dan langkah para pendiri kita 40 tahun silam selalu menyemangati kita semua untuk terus bersaksi mewartakan sukacita dan belas kasih Allah melalui pelyanan yang holistik dan kharismatik”.

Awal Kisah Berdirinya PDPKK Santo Lukas (Medis)
Pada dekade awal 1980-an sekelompok Dokter Katolik di Jakarta menyatakan komitmen mereka untuk melayani sesuai dengan profesinya. Dengan komitmen ini kemudian lahirlah sebuah komunitas doa dengan nama Persekutuan Doa antara para dokter dan tenaga kesehatan Katolik.
Pada bulan Oktober 1985 seorang dokter namanya dr. Hendra Hadibrata (alm.) mencoba mendiskusikan gagasannya tentang komunitas doa dengan beberapa dokter lainnya. Gayung pun bersambut. Gagasan dokter Hendra segera mendapat respon positif dari dr. Lukas Kristananda. Sebuah persekutuan doa di antara para dokter pun mulai terbentuk dengan pendamping rohani kala itu Pastor Sugiri, SJ.
Setelah wadah kecil itu terbentuk sebulan kemudian tepatnya pada tanggal tiga November 1985 pukul 10.00 WIB, untuk pertama kalinya dilaksanakan Persekutuan Doa Karismatik Katolik bagi para dokter dan tenaga medis Katolik. Dari sinilah gerakan iman ini mulai hidup, berakar dan berkembang. Seiring berjalannya waktu, persekutuan doa ini tidak hanya hidup dan bersaksi tentang iman saja. PDPKK juga terus berkomitmen memberikan pelayanan kasih lewat bakti sosial.
Menariknya, karya pelayanan kasih oleh PDPKK Santo Lukas (Medis) ini melintasi batas-batas sosial. Bersama dengan umat lintas agama, misalnya, PDPKK memberikan pelayanan kesehatan kepada umat dengan latar belakang agama yang berbeda. Karya pelayanan lintas iman itu menjadi wujud nyata dari kasih Kristus yang tak memandang siapapun. (John Laba)
Komentar Terakhir