Oleh. : Agus Widjajanto
Setelah konflik bersenjata selama 12 hari antara Iran melawan Israel yang dipicu oleh serangan udara Israel terhadap Iran pada tgl 13 Juni 2025 lalu menggunakan 200 pesawat tercanggih dengan membombardir titik titik strategis diwilayah Iran, menimbulkan serangan balasan dari pihak Iran ke wilayah Israel, dimana Iran meluncurkan dron kamikaze berpandu, dan rudal jarak jauh yang meluluh lantakan kota-kota Israel khususnya Tel Aviv, hingga Israel meminta bantuan sekutu utamanya untuk menyerang Iran.
Sementara didalam negeri kemarahan rakyat Amerika Serikat terhadap presiden Donald Trump, dengan demo besar-besaran di jalan-jalan utama kota besar di Amerika dan Senat juga terbelah suaranya dimana ada sebagian mendukung serangan terhadap tiga titik situs pengayaan nuklir Iran, dan ada yang menantang dimana tindakan Presiden Donald Trump dianggap inkontitusional tanpa persetujuan parlemen. Namun tiba tiba secara mengejutkan presiden Trump justru mengumumkan terjadinya gencatan senjata antara Iran dan Israel, dimana posisi Israel telah mengalami kekalahan dan kehancuran selama berlangsung dalam perang 12 hari tersebut.
Terlepas dari dinamika geo politik dan strategis global apa yang sesungguhnya terjadi, dan skenario apa sebetulnya hingga tiba-tiba terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel, masih merupakan misteri dan para analis militer dan politik hanya bisa menduga-duga, yang sebelumnya dikawatirkan bisa memicu perang Global, dimana Iran akan didukung Tiongkok dan Rusia serta Israel akan didukung Amerika Serikat dan Inggris.
Dalam sejarah peperangan pasca perang Dunia ke dua, baik di Ukraina, di Vietnam, dan di Timur Tengah, belum pernah terjadi dua adidaya dunia tersebut masuk dalam konfrontasi perang secara langsung, kecuali melalui oetang proxi, dengan cara membantu salah satu pihak dengan senjata konvensional, belum sampai tahap mengerahkan senjata strategis pemusnah massal, yang mana seperti ada perjanjian tidak tertulis, dimana saat Rusia melancarkan serangan ke ukraina, Amerika Serikat juga tidak masuk ikut perang secara langsung kecuali lewat NATO dengan bantuan keuangan dan persenjataan.
Berbicara wilayah Timur Tengah tidak bisa dilepaskan dari pada sejarah kejatuhan dari Imperium Ottoman Turki Usmani, sebelum meletusnya perang dunia pertama. Hingga terjadi perjanjian Sykes – Picot 1916.
Perjanjian Sykes-Picot 1916 adalah kesepakatan rahasia antara Inggris dan Prancis untuk membagi wilayah Kekaisaran Utsmaniyah di Timur Tengah setelah Perang Dunia I. Perjanjian ini dirumuskan oleh Mark Sykes dari Inggris dan François Georges-Picot dari Prancis.
Pembagian Wilayah :
– Prancis : Suriah, Lebanon, dan Turki Tenggara
– Inggris : Irak, Yordania, dan daerah-daerah di Palestina sekitar pelabuhan Haifa
– Kota Suci : Yerusalem dan Betlehem akan berada di bawah kendali internasional
Perjanjian ini juga berencana untuk memberikan wilayah kepada Rusia, termasuk Armenia dan sebagian wilayah Kurdistan. Namun, rencana ini dibatalkan setelah Rusia keluar dari perang.
Dampak Perjanjian :
– Ketidakstabilan Politik : Perjanjian ini menyebabkan konflik politik yang berkelanjutan di Timur Tengah karena pembagian wilayah tidak mempertimbangkan identitas budaya, agama, atau sejarah masyarakat lokal.
– Pembagian Wilayah Secara Sepihak : Inggris dan Prancis membagi wilayah Timur Tengah tanpa mempertimbangkan aspirasi atau identitas masyarakat lokal, menyebabkan konflik antar-kelompok dan ketegangan politik.
– Penentangan Nasionalis : Perjanjian ini memicu penentangan dan semangat nasionalis di kalangan masyarakat Arab, yang merasa dikhianati oleh Inggris dan Prancis.
Perjanjian Sykes-Picot masih memiliki dampak signifikan di Timur Tengah hingga saat ini, termasuk konflik Israel-Palestina dan ketidakstabilan politik di beberapa negara Arab
Dendam kesumat rakyat Iran terhadap Amerika Serikat sendiri dipicu oleh pengangkatan Syah Reza Pahlevi yang dianggap sebagai rezim boneka Amerika Serikat, hingga terjadi peristiwa penggulingan Syah Iran Reza Pahlevi oleh gerakan rakyat saat itu hingga terjadi penyerbuan kedutaan besar Amerika Serikat pada tahun 1979.
Penyerbuan kedutaan besar Amerika di Teheran pada 4 November 1979 adalah peristiwa penting dalam sejarah hubungan Iran-Amerika. Penyerbuan ini dilakukan oleh mahasiswa Iran yang mendukung Revolusi Iran 1979 dan menentang pemerintahan Amerika yang dianggap mendukung Syah Iran yang terguling.
Krisis Sandera Iran :
– 66 orang Amerika disandera selama 444 hari, hingga akhirnya dibebaskan pada 20 Januari 1981.
– Krisis sandera ini berdampak signifikan pada hubungan Iran-Amerika dan memicu embargo ekonomi terhadap Iran.
Penyebab Penyerbuan :
– Penolakan terhadap pemerintahan Syah Iran yang didukung Amerika.
– Tindakan Amerika yang dianggap ikut campur dalam urusan dalam negeri Iran.
– Sentimen anti-Amerika yang kuat di kalangan masyarakat Iran pasca-revolusi
Dampak Krisis Sandera :
– Hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika putus.
– Amerika menerapkan sanksi ekonomi terhadap Iran.
– Krisis sandera ini menjadi simbol ketegangan antara Iran dan Amerika yang berlangsung hingga saat ini
Rakyat Iran memang marah karena campur tangan Amerika dan Inggris dalam penggulingan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh pada tahun 1953, yang dikenal sebagai Kudeta Iran 1953. Mosaddegh melakukan nasionalisasi industri minyak Iran, yang sebelumnya dikuasai oleh perusahaan asing, terutama Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) yang berbasis di Inggris.
Kudeta Iran 1953 :
– Nasionalisasi Industri Minyak : Mosaddegh melakukan nasionalisasi industri minyak Iran untuk mengurangi pengaruh asing dan meningkatkan pendapatan negara.
– Campur Tangan Asing : Amerika dan Inggris tidak ingin kehilangan kontrol atas sumber daya minyak Iran, sehingga mereka melakukan kudeta untuk menggulingkan Mosaddegh dan mengembalikan Syah Reza Pahlavi ke tampuk kekuasaan.
– Dampak terhadap Hubungan Iran-Amerika : Kudeta ini meninggalkan luka mendalam di Iran dan menjadi salah satu faktor utama sentimen anti-Amerika di Iran.
Dampak Jangka Panjang :
– Revolusi Iran 1979 : Kudeta 1953 dianggap sebagai contoh campur tangan asing yang merugikan kepentingan Iran, yang menjadi salah satu pemicu Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan Syah Reza Pahlavi.
– Hubungan Iran-Barat : Peristiwa ini memperburuk hubungan Iran dengan Barat, terutama Amerika dan Inggris, dan menjadi bagian dari narasi anti-imperialisme di Iran
Kudeta 1953 menunjukkan bagaimana campur tangan asing dapat mempengaruhi jalannya sejarah suatu negara dan meninggalkan dampak jangka panjang pada hubungan internasional.
Hingga tidak heran apabila wilayah timur tengah , akan selalu dijadikan ajang peperangan untuk memperebutkan pengaruh Geo Strategis dan Geo Politis , Mesir tidak lagi mempunyai kekuatan penyeimbang akibat perjanjian Camp David , dan Arab Saudi juga masih menggantungkan keamanan nya terhadap Amerika serikat , Suriah telah jatuh dan sekarang dalam pengaruh Amerika serikat, demikian juga Irak pasca Sadam Husain jatuh tidak mempunyai kekuatan , Yordania juga tidak bisa berbuat banyak, hanya iran lah satu satu nya kekuatan di Kawasan timur tengah yang belum jatuh pada kekuasaan Amerika Serikat, maka sangat wajar tidak heran iran membangun kekuatan militer nya yang tersembunyi dan secara ekonomi dalam embargo negara negara Barat, dipaksa untuk mandiri dengan ditopang hanya dari penjualan minyak pada tiongkok , dan Korea Utara serta negara negara afrika.
Melihat kondisi tersebut maka sangat sulit bagi palestina untuk diakui mendapatkan hak kemerdekaan nya, peperangan sporadis antara Hamas dengan Israel dan Hizbullah dengan Israel yang dibantu Iran, akan terus terjadi, karena faktor sumber daya minyak, dimana Israel selaku sekutu terdekat Amerika Serikat akan dijadikan agen agar terus memperluas wilayahnya, dan membuat ketidak stabilan geo politik dan strategis kawasan timur tengah, disamping merupakan dampak dari pada perjanjian Sykes – Picot pada tahun 1916. Yang dirumuskan oleh Mark Sykes dari Inggris dan Francois Georges Picot dari Perancis.
Penulis adalah : Praktisi hukum, pemerhati sosial budaya, sejarah dan politik.
Komentar Terakhir