TRENDING:

DPR RI Mendapat Fasilitas Isolasi Mandiri Terpisah Dari...
Kasus Covid-19 Kian Bertambah12.906 Per Hari, Beban Nak...
Sekolah Katolik online, Gratis Lagi!: Tantangan Bagi Du...
Satu Merah Putih
  • News
    • Internasional
    • Nasional
    • Regional
  • Trend
    • Food
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Property
    • Teknologi
  • Edukasi
  • Sosok
  • Caritas Merah Putih
  • Sport
    • Bola
      • Bundes Liga
      • Liga Champions
      • Liga Indonesia
      • Liga Italia
      • Liga Inggris
      • Liga Spanyol
    • Indeks
    • Moto GP
  • Lainnya
    • Family
    • Akhir Pekan
      • Orang Kampung Menulis
    • Kolom
    • REDAKSI

Select Page

Kejadian Alam Semesta dalam Konsep “Wahdatul Wujud” Pujangga Ronggo Warsito

Posted by Redaksi | Jun 30, 2025 | Kolom | 0 |

Kejadian Alam Semesta dalam Konsep “Wahdatul Wujud” Pujangga Ronggo Warsito
Post Views: 150

Oleh.    : Agus Widjajanto

Rahasia alam semesta tentang terjadinya dan awal terbentuknya alam semesta ini, terus menjadi perdebatan para ahli, apakah awal mula dari tiada lalu menjadi ada karena diciptakan dengan seketika, dengan lafal Kun Fayakun maka jadi terjadilah, ataukah melalui proses alami jutaan tahun, yang awal mula diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan menciptakan sebuah sistem alam yang akan bekerja dengan sendirinya, dengan tujuan tertentu agar yang diciptakan nanti bisa mengetahui dan mengenal dirinya bahwa Tuhan itu ada .

Rahasia terjadinya Alam Semesta tidak bisa dipisahkan dengan Pencarian jati diri pada diri manusia sudah berlangsung ribuan tahun , baik sebelum Tarikh tahun Masehi hingga abad pertengahan hingga pada jaman modern saat ini, untuk mencari eksistensi diri, dalam upaya mengenal Tuhan-nya, sebagai Zat yang disembah, untuk menemukan kebenaran hakiki sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa.

Ungkapan kata “Sejatine seng Ono Kuwi Dudu” dalam filsafat Jawa sangat dalam makna yang dikandung dimana segala sesuatu yang nampak di dunia ini adalah menipu, tidak sesuai yang dilihat, bisa boleh dikatakan abstrak, dengan demikian hidup dan kehidupan itu sendiri penuh dengan misteri dalam kehidupan itu sendiri.

Berbicara tentang Raden Ngabehi Ronggo Warsito tidak bisa dilepaskan dari pada konsep Wahdatul Wujud dari manunggal Kawuloning Gusti, yang dikembangkan dari ajaran Syekh Siti Jenar pada abad awal ke 15 Masehi.

Syekh Siti Jenar adalah tokoh sufi Jawa yang hidup pada abad ke-15 dan dikenal karena ajaran tasawufnya yang kontroversial. Menurut keyakinan Syekh Siti Jenar, penciptaan alam semesta dapat dipahami melalui konsep “Manunggaling Kawula Gusti” atau penyatuan antara hamba dan Tuhan.

Konsep Penciptaan Alam Semesta :

– Manunggaling Kawula Gusti : Syekh Siti Jenar menekankan pentingnya menyadari kesatuan antara manusia dan Tuhan. Menurutnya, alam semesta diciptakan sebagai manifestasi dari keberadaan Tuhan, dan manusia harus menyadari kesatuan ini melalui pengalaman spiritual.

– Wahdatul Wujud : Konsep ini juga terkait dengan ajaran Wahdatul Wujud, yang menekankan bahwa hanya Tuhan yang benar-benar ada, dan segala sesuatu di alam semesta adalah manifestasi dari-Nya.

Pandangan tentang Penciptaan :

– Penciptaan sebagai Manifestasi Tuhan : Syekh Siti Jenar percaya bahwa alam semesta diciptakan sebagai manifestasi dari keberadaan Tuhan, dan manusia harus menyadari kesatuan ini melalui pengalaman spiritual.

– Kesadaran Spiritual : Menurut Syekh Siti Jenar, kesadaran spiritual adalah kunci untuk memahami penciptaan alam semesta dan peran manusia di dalamnya.

Ajaran Syekh Siti Jenar tentang penciptaan alam semesta menekankan pentingnya kesadaran spiritual dan penyatuan dengan Tuhan. Konsep Manunggaling Kawula Gusti dan Wahdatul Wujud menjadi dasar bagi pemahaman tentang penciptaan alam semesta dalam tasawuf Jawa.

Ajaran Wahdatul Wujud memang memiliki konsep yang mendalam tentang alam semesta dan penciptaannya. Dalam konteks ini, alam semesta dianggap sebagai manifestasi dari keberadaan Tuhan, dan segala sesuatu di dalamnya adalah bagian dari kesatuan yang lebih besar.

Konsep Suwung Gung Liwang Liwung :

– Suwung : Suwung dapat diartikan sebagai kekosongan atau kehampaan. Dalam konteks Wahdatul Wujud, suwung merujuk pada keadaan sebelum alam semesta diciptakan, ketika hanya Tuhan yang ada.

– Gung Liwang Liwung : Gung Liwang Liwung dapat diartikan sebagai keadaan yang tidak terdefinisi atau tidak terbatas. Dalam konteks ini, Gung Liwang Liwung merujuk pada keadaan Tuhan sebelum menciptakan alam semesta, ketika tidak ada batasan atau definisi.

Penciptaan Alam Semesta :

– Manifestasi Tuhan : Dalam ajaran Wahdatul Wujud, alam semesta diciptakan sebagai manifestasi dari keberadaan Tuhan. Segala sesuatu di alam semesta adalah bagian dari kesatuan yang lebih besar, dan manusia harus menyadari kesatuan ini melalui pengalaman spiritual.

– Kesadaran Spiritual : Kesadaran spiritual adalah kunci untuk memahami penciptaan alam semesta dan peran manusia di dalamnya. Dengan menyadari kesatuan dengan Tuhan, manusia dapat memahami tujuan dan makna hidupnya.

Ajaran Wahdatul Wujud tentang alam semesta yang awalnya Suwung Gung Liwang Liwung menekankan pentingnya memahami kesatuan antara manusia dan Tuhan. Dengan menyadari kesatuan ini, manusia dapat memahami tujuan dan makna hidupnya, serta peranannya dalam alam semesta yang lebih besar.

Apabila dihubungkan dengan ilmu pengetahuan modern dalam hal ini ilmu fisika tentang hukum Gravitasi dimana Hukum gravitasi memainkan peran penting dalam pembentukan dan evolusi alam semesta.

Peran Gravitasi dalam Pembentukan Alam Semesta :

– Kondensasi Materi : Gravitasi membantu kondensasi materi dan gas di alam semesta awal, membentuk struktur besar seperti galaksi dan gugus galaksi.

– Pembentukan Bintang dan Planet : Gravitasi juga berperan dalam pembentukan bintang dan planet, dengan mempengaruhi distribusi materi dan energi di dalam sistem bintang.

Teori Big Bang dan Gravitasi :

– Ekspansi Alam Semesta : Teori Big Bang menjelaskan bahwa alam semesta mengembang sejak ledakan besar sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Gravitasi memainkan peran penting dalam memperlambat ekspansi alam semesta dan membentuk struktur besar.

Gravitasi dalam Evolusi Alam Semesta :

– Struktur Kosmik : Gravitasi membantu membentuk struktur kosmik seperti galaksi, gugus galaksi, dan superkluster galaksi.

– Dinamika Alam Semesta : Gravitasi juga mempengaruhi dinamika alam semesta, termasuk pergerakan bintang, planet, dan galaksi.

Dalam konteks ini, hukum gravitasi Newton dan teori relativitas umum Einstein memainkan peran penting dalam memahami evolusi alam semesta. Bahwa awalnya adalah kekosongan (Suwung) dari tiada menjadi ada karena diciptakan melalui sabda Kun Fayakun dalam bentuk sistem cahaya, yang akan berevolusi melalui proses alam itu sendiri.

Stephen Hawking dalam bukunya “The Grand Design” (2010) mempresentasikan teori bahwa alam semesta dapat menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan melalui proses yang disebut “penciptaan spontan”. Menurut Hawking, hukum fisika, terutama teori relativitas umum dan mekanika kuantum, memungkinkan alam semesta untuk muncul secara spontan tanpa perlu campur tangan Tuhan atau penyebab lain.

Penciptaan Spontan :

– Teori M-Theory : Hawking menggunakan teori M-Theory, yang merupakan perluasan dari teori string, untuk menjelaskan bagaimana alam semesta dapat muncul secara spontan. Menurut teori ini, alam semesta kita adalah salah satu dari banyak alam semesta yang ada dalam multiverse.

– Fluktuasi Kuantum : Hawking juga menjelaskan bahwa fluktuasi kuantum dapat menyebabkan penciptaan spontan alam semesta dari ketiadaan. Fluktuasi kuantum adalah perubahan sementara dalam energi yang dapat terjadi secara acak di ruang vakum.

Implikasi Filosofis :

– Tidak Perlu Pencipta : Teori penciptaan spontan Hawking menyiratkan bahwa alam semesta tidak memerlukan pencipta atau penyebab lain untuk ada. Hukum fisika saja sudah cukup untuk menjelaskan keberadaan alam semesta.

– Multiverse : Teori multiverse juga menyiratkan bahwa alam semesta kita hanyalah salah satu dari banyak alam semesta yang ada, dan bahwa setiap alam semesta dapat memiliki hukum fisika yang berbeda-beda.

Teori penciptaan spontan Hawking telah memicu perdebatan dan diskusi tentang sifat alam semesta dan peran Tuhan dalam penciptaan. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang topik ini, silakan bertanya.

Bahwa filosofi Sejatine Seng Ono Kuwi Dudu, dapat ditafsirkan bahwa hukum alam (Sunnatullah) adalah hukum Tuhan itu sendiri, dimana alam bekerja sesuai sistem, siapa yang melawan hukum alam maka akan tergilas oleh sistem, sistem yang telah diciptakan oleh Tuhan milyartan tahun lalu, untuk tujuan agar mahluk mengenal dirinya lewat tajjalinya sebagai hamba didalam raya ini.

Dalam tasawuf kebatinan Jawa dikenal dengan konsep spiritual Manunggal Kawuloning Gusti yakni menyatu nya sangat mahluk dengan sang khalik, dimana proses pencapaian nya memerlukan perjalanan panjang dalam pencarian jati diri itu sendiri, dengan berbagai liku dan penderitaan hidup agar bisa mengenal diri sejenak kenal nya.

Serat Paramayoga (karya sastra berbentuk prosa), Ronggo Warsito menyusun cerita sejarah yang didalam istilah Jawa disebut babad. Ronggo Warsito secara sinkretis mempertemukan cerita mitologi dan silsilah dewa-dewa Hindu dengan riwayat nabi-nabi dalam agama Islam.

Dalam zaman Kerajaan Mataram Islam di Jawa timbul upaya untuk memperkuat wibawa raja-raja Jawa dengan menyusun serat babad untuk menggambarkan bahwa raja adalah keturunan campuran dari nabi Adam dan dewa-dewa Hindu. Dimana sebagai upaya untuk mempertemukan mitologi dewa-dewa Hindu dengan riwayat nabi Adam dalam Islam telah dimulai sejak jaman kerajaan Mataram Islam di Kartosuro dengan munculnya serat Kandha .

Dalam serat Paramayoga tersebut Sang Ngabehi Ronggo Warsito menyisipkan pokok-pokok ajaran yang terdapat dalam “wirid Hidayat jati” yang mengulas tentang konsep Ketuhanan, alam Ghaib, dan konsep manunggal Kawuloning Gusti. Misal nya saja alam Makdum, dan alam ghaib dinamakan alam Ruhiyah.

Dalam Paramayoga ditulis adanya tiga alam, yang diterangkan bahwa Bathara Guru menjadi Raja Triloka atau tiga alam, yakni alam tengah (Dunia nyata), lalu alam bawah dan alam Atas. Alam bawah dan alam atas disebut dan dinamakan alam “Alam Makdum” yakni alam kajiman atau Dunia jin tempat makhluk rohani.

Dalam konsep kesatuan manusia dengan Tuhan nya diuraikan lebih lanjut sewaktu Hyang Wisesaning Tunggal menyatukan diri dengan puteranya Bhatara Manikmaya (Bhatara Guru) dimana Hyang Wisesasing Tunggal mengatakan sebagai berikut :

“Kini kamu menjadi tajaliku (Kenyataanku) kamu harus menyadari bahwa aku tidak sama dengan kamu, akan tetapi aku meliputi kamu. Seumpama bunga mawar kamu rupanya, maka aku bau harumnya, seumpama madu maka kamu rupanya madu, aku adalah rasa manisnya madu. Jadi aku dan kamu bisa disebut Roro Ning Tunggal (Dua tapi satu manunggal) sembahmu kepadaku dan rasa takutmu padaku, kau telah kuinjinkan memilih dan mempergunakan semua namaku, terkecuali satu yang tidak ku ijinkan bagimu, yaitu memakai nama Sang Hyang Wenang, demikian agar ada perbedaan antara aku dan kamu, agar menjadi tempat puji serta sembahmu kepadaku”

“kamu telah menjadi tajaliku, aku telah percaya padamu, apa yang kucipta pasti jadi, segala yang dikehendaki pasti ada, apa yang ku inginkan pasta ada, kamu kuberi kuasa untuk menjadi raja tiga alam. Ketahuilah bahwa apa yang tersebut tadi sudah tercakup padamu. Lantaran telah kuberi kuasa untuk merajai semua alam, sebagai tajaliku (wakilku)”.

“Hendaklah kamu sadari bahwa Tuhan itu disebut Gusti, tiada zaman tiada tempat, timur dan barat aku berada, dia itu menjadikan langit dan bumi beserta isinya, yang memberi hidup, kesenangan, kepandaian, kesaktian, kepada semua mahluk, bahwa Tuhan itu tidak serupa seperti manusia, tidak berwujud akan tetapi meliputi seluruh alam semesta yang bisa dirasakan kehadiran nya”

Uraian diatas merupakan penjelasan konsep Tajali, simbul manunggalnya manusia dengan Tuhan, dan menjadi inti dari ajaran Wirid Hidayat Jati dari Ronggo Warsito, konsep Tajali artinya penampakan keluar atau manifestasi dalam istilah Jawa diganti kanyataan, dimana konsep ini memang searti dan sejajar dengan ungkapan Jawa “Jawata Ngejo Wantah” dan manusia titisan dewa. Paham ini mengarah pada pensifatan Tuhan yang Antropomorfistis , digambarkan punya sifat mahakuasa, atau manusia menyerupai Yang Kuasa.

Memang dalam Kitab Paramayoga disebutkan tetap dibedakan antara manusia sebagai mahluk yang menyembah dan Tuhan yang disembah, dimana konsepsi ketuhanan bersifat Teisme, dimana Tuhan sebagai yang maha kuasa dan maha kehendak, segala kejadian di alam raya ini adalah atas kodrat dan irodat Tuhan. Kepercayaan atas takdir Tuhan merupakan satu sendi dalam ajaran tasawuf Jawa, bahwa segala sesuatu didunia telah ditentukan, lakon nya telah ditentukan oleh sang Dalang dalam kisah pewayangan. Bahwa kepercayaan akan takdir Tuhan merupakan ciri dari paham Teisme.

Mistik Islam Kejawen, Raden Ngabehi Ronggo Warsito, Dr Simuh, UI Pers 1988. Halaman 72-77.)

Penulis : adalah praktisi hukum pemerhati sosial budaya, dan sejarah bangsanya.

Share:

Rate:

PreviousKepentingan Geo Strategis antara Iran dan Amerika Serikat bersama sekutunya
NextMerefleksi Diri pada Sistem Pendidikan Digital kita yang akan melahirkan Generasi mendatang

About The Author

Redaksi

Redaksi

Redaksi satumerahputih.com | Berita Indonesia dan Dunia Terkini Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terpercaya Terlengkap Seputar Politik, Ekonomi, Travel, Kuliner Dan lainnya |

Related Posts

Paskah, Kehidupan, dan Utopia

Paskah, Kehidupan, dan Utopia

April 18, 2022

Honocoroko dalam Aksara Jawa sebagai Filosofi dan Konsep Ketuhanan Orang Jawa

Honocoroko dalam Aksara Jawa sebagai Filosofi dan Konsep Ketuhanan Orang Jawa

March 20, 2025

“TABOLA BALE”, RUANG FORMAL dan DISLOKASI SIMBOLIK

“TABOLA BALE”, RUANG FORMAL dan DISLOKASI SIMBOLIK

October 25, 2025

Pinjol (Pinjaman Online) berpotensi besar menciptakan kemiskinan baru secara masal

Pinjol (Pinjaman Online) berpotensi besar menciptakan kemiskinan baru secara masal

May 31, 2025

Leave a reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

VIDEO ADS

https://www.youtube.com/watch?v=oCndCoZ3v-w

KATEGORI

  • Akhir Pekan
  • Bola
  • Bundes Liga
  • Caritas Merah Putih
  • Edukasi
  • Family
  • Featured News
  • Food
  • Gaya Hidup
  • Indeks
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kolom
  • Liga Champions
  • Liga Indonesia
  • Liga Inggris
  • Liga Italia
  • Liga Spanyol
  • Moto GP
  • Nasional
  • Nasional
  • News
  • Orang Kampung Menulis
  • Property
  • Regional
  • Sosok
  • Sport
  • Teknologi
  • Trend
  • Uncategorized

Berita Terbaru

  • Lembata Dorong Agroforestri Malapari Sebagai Bahan Baku Bioenergi  Ramah Lingkungan
    Lembata Dorong Agroforestri Malapari Sebagai Bahan Baku Bioenergi Ramah Lingkungan
    Jan 13, 2026 | Regional
  • Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI: Empat Pilar Kebangsaan Perkuat Moderasi Beragama di Indonesia
    Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI: Empat Pilar Kebangsaan Perkuat Moderasi Beragama di Indonesia
    Jan 9, 2026 | Uncategorized
  • Sosialisasi Empat Pilar di SMK Thomas Morus Maumere, Melchias Markus Mekeng Tekankan Pentingnya Kolaborasi
    Sosialisasi Empat Pilar di SMK Thomas Morus Maumere, Melchias Markus Mekeng Tekankan Pentingnya Kolaborasi
    Jan 8, 2026 | Uncategorized
  • Melchias Markus Mekeng: Seluruh Elemen Masyarakat Harus Bisa mengimplementasikan Empat Pilar Kebangsaan
    Melchias Markus Mekeng: Seluruh Elemen Masyarakat Harus Bisa mengimplementasikan Empat Pilar Kebangsaan
    Jan 8, 2026 | Regional
  • Sosialisasi Empat Pilar,Melchias Markus Mekeng Ajak Pelajar Maksimalkan Peran Media Sosial untuk Perkokoh Persatuan Bangsa
    Sosialisasi Empat Pilar,Melchias Markus Mekeng Ajak Pelajar Maksimalkan Peran Media Sosial untuk Perkokoh Persatuan Bangsa
    Jan 8, 2026 | Uncategorized

Komentar Terakhir

  • Redaksi August 3, 2021
    on DPR RI Mendapat Fasilitas Isolasi Mandiri Terpisah Dari Rakyat Berupa Hotel Bintang Tiga
  • Odell Benak August 2, 2021
    on DPR RI Mendapat Fasilitas Isolasi Mandiri Terpisah Dari Rakyat Berupa Hotel Bintang Tiga
  • Redaksi July 17, 2021
    on Kasus Covid-19 Kian Bertambah12.906 Per Hari, Beban Nakes Meningkat
  • Louie Donnellan July 15, 2021
    on Kasus Covid-19 Kian Bertambah12.906 Per Hari, Beban Nakes Meningkat

HOT NEWS

  • Lembata Dorong Agroforestri Malapari Sebagai Bahan Baku Bioenergi Ramah Lingkungan
  • Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI: Empat Pilar Kebangsaan Perkuat Moderasi Beragama di Indonesia
  • Sosialisasi Empat Pilar di SMK Thomas Morus Maumere, Melchias Markus Mekeng Tekankan Pentingnya Kolaborasi

SUPPORTED BY :

Designed by Elegant Themes | Powered by WordPress