TRENDING:

DPR RI Mendapat Fasilitas Isolasi Mandiri Terpisah Dari...
Kasus Covid-19 Kian Bertambah12.906 Per Hari, Beban Nak...
Sekolah Katolik online, Gratis Lagi!: Tantangan Bagi Du...
Satu Merah Putih
  • News
    • Internasional
    • Nasional
    • Regional
  • Trend
    • Food
    • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Property
    • Teknologi
  • Edukasi
  • Sosok
  • Caritas Merah Putih
  • Sport
    • Bola
      • Bundes Liga
      • Liga Champions
      • Liga Indonesia
      • Liga Italia
      • Liga Inggris
      • Liga Spanyol
    • Indeks
    • Moto GP
  • Lainnya
    • Family
    • Akhir Pekan
      • Orang Kampung Menulis
    • Kolom
    • REDAKSI

Select Page

“Dunia di Ambang Perang Besar memicu terjadinya perang Dunia, demi kepentingan Geo Politis dan Strategis”

Posted by Redaksi | May 9, 2025 | Kolom | 0 |

“Dunia di Ambang Perang Besar memicu terjadinya perang Dunia, demi kepentingan Geo Politis dan Strategis”
Post Views: 88

Oleh.  ; Agus Widjajanto

Beberapa hari lalu secara resmi India telah melakukan serangan udara kewilayah Khasmir yang diduduki Pakistan. India menyerang sembilan lokasi di Pakistan dan Khasmir yang diduduki Pakistan dengan rudal dan drone, serta serangan udara menggunakan pesawat Rafale butan Perancis, dan telah ditembak jatuh oleh angkatan udara Pakistan dengan pesawat J- 10 C Cengdu buatan China. Hal ini telah merubah eskalasi kekuatan tehnologi barat dimana pesawat Rafale dianggap merupakan pesawat yang sangat canggih secara persenjataan dan elektronik, namun dalam perang Khasmir antara India dan Pakistan , justru rontok ditembak pesawat Cengdu J – 19 C buatan China yang dianggap murah dan ternyata bertehnologi mumpuni untuk mengunci dan mematikan seluruh instrumen elektronik dalam perang udara tersebut. Hal ini menunjukan bahwa Alat utama sistem persenjataan buatan China tidak main main, dan prediksi para ahli militer benar adanya bahwa senjata pertahanan China lebih mutakhir dari pada buatan blok barat/ eropa maupun Amerika Serikat sekalipun .

Situasi perang tersebut bisa terjadi efek domino dimana India di backup oleh Rusia dan Pakistan di beckup oleh China dan Turki, serta Amerika dalam beberapa persenjataan kelas berat, dan kedua negara mempunyai senjata nuklir, sebagai senjata pemusnah massal. Dan imbas dari perang ini berakibat dunia semakin mengalami kelesuan ekonomi dan inflasi yang bukan tidak mungkin akan menyeret negara negara besar untuk bertarung dalam perang tersebut.

Kondisi Geo Strategis dan Geo Politis di Asia Pasifik atau lebih dikenal Indo Pasifik yang diklaim merupakan wilayah dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi untuk abad mendatang, sangat rentan akan terjadi gesekan yang menimbulkan percikan api peperangan antar Negara Adi daya baik secara ekonomi maupun secara militer, bagi kawasan. 

Setidak nya ada dua wilayah yang bisa meletupkan perang besar, diwilayah Indo Pasifik yakni masalah pulau Taiwan yang diklaim oleh Tiongkok sebagai bagian dari wilayahnya yang merupakan kesatuan dengan China dataran, yang sewaktu waktu timbul masalah besar, terjadi serangan militer dalam skala besar. Dimana Taiwan secara hukum sesuai perjanjian militer selalu dipasok persenjataan Alat Utama Sistem Persenjataan dari Amerika Serikat. Tiongkok China sendiri dalam sepuluh terahir ini, telah menggenjot belanja militer, yang begitu besar bahkan telah membangun tiga kapal induk terbaru, sebagai penerus dari kapal induk Lioning yang dulu dibangun dari kapal induk yang sudah dibersihkan tuakan oleh Ukraina. Belum lagi kemajuan militer dibidang satelit angkasa luar dalam penginderaan pertahanan militer serta pesawat J 20, yang dianggap mampu menyaingi F 35 dari Amerika Serikat dalam teknologi pesawat generasi ke lima. Serta pesawat pembom jarak jauh serta Rudal antar benua Dong Feng yang bisa menjangkau Hawai dan daratan Amerika Serikat, merupakan kekuatan militer yang di prediksi para ahli telah melampaui Amerika Serikat sendiri selaku negara Adi Daya, serta Rusia .

Yang kedua, Laut China Selatan yang merupakan lautan samudera kecil wilayah yang diklaim oleh Tiongkok sebagai wilayah tradisional dalam pelayaran dan penghidupan nelayan nya sejak dinasti Ming hingga dinasti HAN, sebelum terjadi perang dunia pertama dan kedua .

Wilayah Laut China Selatan yang diprediksi para ahli geologi kaya akan sumber mineral bumi baik minyak maupun gas alam, merupakan sumber alam cadangan untuk mampu menghidupi rakyat Tiongkok hingga ratusan tahun kedepan. Jumlah penduduk Tiongkok saat ini adalah sekitar 1,408 miliar orang, berdasarkan data tahun 2024 dari National Bureau of Statistics. Namun, perlu diingat bahwa angka ini dapat berubah seiring waktu.

Di Laut China Selatan saat ini Tiongkok telah membangun pangkalan militer rahasia dari sebuah pulau karang yang direklamasi yang mampu menjangkau, negara negara Asean, dan bahkan Australia, dalam serangan udara jarak jauh. Saat ini telah terjadi sengketa soal klaim teritorial, Hak ekonomi eksklusif dengan negara negara Asean yakni Malaysia, Philippines, Vietnam dan menyangkut nine dase line (Garis putus putus) yang diklaim Tiongkok menyangkut Wilayah Zona Ekonomi Eksklusif dengan pulau Natuna yang merupakan halaman belakang Negara kita.

Tiongkok sendiri saat ini telah terjadi perang dagang dengan Amerika Serikat, dan Negara Adi Daya tersebut telah membuat pakta Pertahanan militer di Indo Pasifik yakni AUKUS , yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia , dan Inggris. Dimana situasinya sangat mirip saat Jepang di kucilkan oleh Amerika Serikat dan lebih menggandeng China Tiongkok saat itu pada paruh waktu tahun 1940 sebelum meletusnya perang Pasifik pada perang Dunia kedua. Maka kita jangan pernah melupakan sejarah, dimana kejadian kerap kali berulang walaupun dengan obyek dan subyek yang berbeda, serta waktu yang berbeda .

Latar belakang serangan Jepang ke Pearl Harbour di Hawaii pada Perang Dunia II cukup kompleks. Pada tahun 1930-an, Jepang memiliki ambisi untuk menguasai wilayah Asia Pasifik dan Asia Tenggara, terutama China. Namun, Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan luar negeri yang lebih condong ke China dan menghentikan kerja sama dagang dengan Jepang, termasuk embargo minyak dan besi tua.

Hal ini membuat Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk melakukan serangan mendadak ke Pearl Harbour untuk menghancurkan Armada Pasifik Amerika Serikat dan mencegah intervensi Amerika dalam rencana ekspansi Jepang di Asia. Serangan ini dilakukan pada tanggal 7 Desember 1941 dan mengakibatkan kerusakan parah pada pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, serta menewaskan sekitar 2.400 orang Amerika

Dan situasi yang sangat komplek tersebut hampir mirip pada saat sekarang ini, menyangkut situasi Geo Politik dan Geo strategis kawasan Indo Pasifik sendiri.  Bisa terjadi perang suatu waktu pecah dan meletus yang kadang dipicu hak hal yang tanpa diduga, dan direncanakan sebelumnya.

Dan hal ini harus menjadi perhatian dan kewaspadaan dari Indonesia, selalu negara non blok yang tidak terlihat traktak perjanjian militer dengan siapapun, dan negara manapun, namun situasi kompleksitas ini terjadi justru dihalaman belakang wilayah teritorial NKRI yakni kepulauan Natuna. Para pengambil kebijakan harus berpikir ekstra keras dan bekerja cepat untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk apabila meletusnya perang besar. Yang mau tidak mau suka tidak suka harus mampu mempertahankan wilayah teritorialnya dengan segala kekuatan sendiri secara mandiri.  Dan pasti terjadi blok-blokan seperti halnya perang Ukraina , dimana Amerika Serikat bersama sekutunya dan China Tiongkok tentu bersama sekutu terdekatnya, dan bisa dibayangkan kehancuran kedua belah pihak akibat Sistem Persenjataan modern yang menimbulkan kerusakan secara masif dengan korban yang tidak bisa dihitung pasti. Belum lagi hancurnya ekonomi seluruh dunia .

Penulis ingat pernah membaca sebuah memoar bahwa salah satu petinggi militer kita pada tahun 1970-an menyatakan Indonesia saat ini tidak mungkin terjadi perang, ternyata empat tahun kemudian dengan situasi kondisi Geo Strategis dan politis kawasan, untuk membendung pengaruh komunisme saat itu , Indonesia dipaksa untuk menyerbu Timor Timur, yang artinya segala kemungkinan bisa terjadi, dan harus siap sewaktu waktu meletus perang besar, dan itu adalah tanggung jawab kita semua sebagai anak bangsa.

Penulis adalah praktisi hukum , penulis, pemerhati masalah sosial budaya, sejarah bangsanya.

Share:

Rate:

PreviousCARA PEMILIHAN PAUS – KONKLAV
Next27 Tahun Pasca Reformasi, justru terjadi degradasi Moral Bangsa secara masif yang merubah tatanan berbangsa dan bernegara

About The Author

Redaksi

Redaksi

Redaksi satumerahputih.com | Berita Indonesia dan Dunia Terkini Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terpercaya Terlengkap Seputar Politik, Ekonomi, Travel, Kuliner Dan lainnya |

Related Posts

Mencapai Sanatha Darma (Pelayanan yang Sejati)

Mencapai Sanatha Darma (Pelayanan yang Sejati)

April 2, 2025

Kejadian Alam Semesta dalam Konsep “Wahdatul Wujud” Pujangga Ronggo Warsito

Kejadian Alam Semesta dalam Konsep “Wahdatul Wujud” Pujangga Ronggo Warsito

June 30, 2025

Perang Iran-Israel dan kekuatan Negara Adi Daya dalam konflik skala luas

Perang Iran-Israel dan kekuatan Negara Adi Daya dalam konflik skala luas

June 15, 2025

Perdebatan Hak Asasi Manusia dalam Perspektif para Pendiri Bangsa dalam Membentuk UUD

Perdebatan Hak Asasi Manusia dalam Perspektif para Pendiri Bangsa dalam Membentuk UUD

April 12, 2025

Leave a reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

VIDEO ADS

https://www.youtube.com/watch?v=oCndCoZ3v-w

KATEGORI

  • Akhir Pekan
  • Bola
  • Bundes Liga
  • Caritas Merah Putih
  • Edukasi
  • Family
  • Featured News
  • Food
  • Gaya Hidup
  • Indeks
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kolom
  • Liga Champions
  • Liga Indonesia
  • Liga Inggris
  • Liga Italia
  • Liga Spanyol
  • Moto GP
  • Nasional
  • Nasional
  • News
  • Orang Kampung Menulis
  • Property
  • Regional
  • Sosok
  • Sport
  • Teknologi
  • Trend
  • Uncategorized

Berita Terbaru

  • Lembata Dorong Agroforestri Malapari Sebagai Bahan Baku Bioenergi  Ramah Lingkungan
    Lembata Dorong Agroforestri Malapari Sebagai Bahan Baku Bioenergi Ramah Lingkungan
    Jan 13, 2026 | Regional
  • Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI: Empat Pilar Kebangsaan Perkuat Moderasi Beragama di Indonesia
    Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI: Empat Pilar Kebangsaan Perkuat Moderasi Beragama di Indonesia
    Jan 9, 2026 | Uncategorized
  • Sosialisasi Empat Pilar di SMK Thomas Morus Maumere, Melchias Markus Mekeng Tekankan Pentingnya Kolaborasi
    Sosialisasi Empat Pilar di SMK Thomas Morus Maumere, Melchias Markus Mekeng Tekankan Pentingnya Kolaborasi
    Jan 8, 2026 | Uncategorized
  • Melchias Markus Mekeng: Seluruh Elemen Masyarakat Harus Bisa mengimplementasikan Empat Pilar Kebangsaan
    Melchias Markus Mekeng: Seluruh Elemen Masyarakat Harus Bisa mengimplementasikan Empat Pilar Kebangsaan
    Jan 8, 2026 | Regional
  • Sosialisasi Empat Pilar,Melchias Markus Mekeng Ajak Pelajar Maksimalkan Peran Media Sosial untuk Perkokoh Persatuan Bangsa
    Sosialisasi Empat Pilar,Melchias Markus Mekeng Ajak Pelajar Maksimalkan Peran Media Sosial untuk Perkokoh Persatuan Bangsa
    Jan 8, 2026 | Uncategorized

Komentar Terakhir

  • Redaksi August 3, 2021
    on DPR RI Mendapat Fasilitas Isolasi Mandiri Terpisah Dari Rakyat Berupa Hotel Bintang Tiga
  • Odell Benak August 2, 2021
    on DPR RI Mendapat Fasilitas Isolasi Mandiri Terpisah Dari Rakyat Berupa Hotel Bintang Tiga
  • Redaksi July 17, 2021
    on Kasus Covid-19 Kian Bertambah12.906 Per Hari, Beban Nakes Meningkat
  • Louie Donnellan July 15, 2021
    on Kasus Covid-19 Kian Bertambah12.906 Per Hari, Beban Nakes Meningkat

HOT NEWS

  • Lembata Dorong Agroforestri Malapari Sebagai Bahan Baku Bioenergi Ramah Lingkungan
  • Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI: Empat Pilar Kebangsaan Perkuat Moderasi Beragama di Indonesia
  • Sosialisasi Empat Pilar di SMK Thomas Morus Maumere, Melchias Markus Mekeng Tekankan Pentingnya Kolaborasi

SUPPORTED BY :

Designed by Elegant Themes | Powered by WordPress